INSPIRASI MUNCUL DARI MANA SAJA, BENARKAH ?
![]() |
📷 by: @dayana Gambar Ilustrasi |
Mengenai artikel saya pada kali ini inspirasinya muncul dari sawahku sendiri. Kenapa sawahku ? Disini saya ulas sedikit mengenai konsep kenapa saya memilih diksi “sawahku”. Konsep sawahku ini bukan berarti segalanya ada bukan untuk dan olehku saja, melainkan untuk semua, termasuk adik-adikku, anggota keluarga yang lain, tetangga dan kerabat yang hendak mengambil buah kelapa untuk pemujaan pada saat hari raya tertentu yang sebelumnya memberitahukan dan atau meminta izin sebelumnya, termasuk orang lain bahkan burung pun yang bertengger sembari menunggu hasil panen dari sawahku tidak masalah, walaupun nantinya pasti akan aku usir juga karena mengambil hasil padi dari pamanku yang berlebihan. Namun sawahku sendiri memberikan pengalaman yang berbeda yang aku rasakan, seperti apa, berikut adalah ulasannya.
Setiap orang yang tinggal di desa pasti mengenal yang namanya sawah. Disana terdapat jenis tumbuhan yang ditanam pada musim tertentu, seperti padi, aneka sayuran, aneka buah-buahan dan lain-lain. Disana juga terdapat jenis tumbuhan yang tidak diharapkan sepenuhnya oleh petani, saya juga; semisal, rumput teki, padang ilalang dan lain-lain karena tumbuh disela-sela tanaman yang dibudidayakan oleh petani. Namun tetap saja semua tumbuhan ini memiliki manfaat, sejauh kita ingin mempelajari kandungan dan khasiat masing-masing tumbuhan. Selain tumbuhan juga ada aneka jenis satwa; semisal jenis burung perkutut, burung gereja, sampai pemangsa seperti burung Kokokan dan Elang. Jenis hewan darat juga tidak kalah banyaknya, kadal, ular, dan tikus. Untuk tikus punya julukan tersendiri namanya “Jero ketut”karena kerap sebagai fauna yang ter katagorikan hama karena merusak hasil panen petani. Kemudian untuk hewan air sudah mulai berkurang jumlahnya karena terus ditangkap dijadikan santapan dan ada yang sengaja di setrum, diracuni supaya bisa ditangkap dalam jumlah besar dan hasilnya dijual. Selain apa yang saya sampaikan di atas, yang tidak kalah pentingnya faktor manusia yang bekerja sebagai petani khususnya yang melakukan aktifitas mulai dari pengolahan tanah, menyiapkan bibit, pengairan, pemupukan, penyemprotan, dan pemanenan. Semua hal ini berhubungan dan sama-sama memberikan andil untuk keberlangsungan sawah tidak hanya di desaku saja, tetapi di daerah lain juga.
Namun dari berbagai aktifitas yang saya lakukan sendiri di sawah sembari mengisi waktu luang, ada banyak hal yang saya dapatkan. Inspirasi mengenai apa jawaban dari segala permasalahan hidup, kemudian keputusan-keputusan besar dan krusial diputuskan disana. Cuman prosesnya tidak hanya duduk diam dan merenung atau debat atau bercerita kepada semua petani yang saya temui disana, melainkan diawali dengan beraktifitas seperti, mencabut rumput, menyabit rumput, menanam, memupuk dan lain-lain. Kalau saya ceritakan dengan orang lain pasti kelihatan aneh, masak menyabit rumput sambil berpikir, “Gak kena sabit nanti tangannya” Kata petani yang saya jumpai. Atau kalau menyiram tumbuhan sambil berpikir, gak mubasir nanti airnya.
Apa yang dipikirkan oleh orang seperti di atas itu benar, setiap aktifitas yang dilakukan atau dikerjakan harus fokus, konsentrasi dan memakai akal sehat pula. Namun disela-sela aktifitas, biasanya kita perlu istirahat sejenak sembari sesaat memandangi pemandangan hamparan sawah yang mulai menguning, dan suara burung yang berkicau saling bersahutan. Nah pada saat itulah muncul ide-ide yang sebelumnya saya pilah dan pilih, kemudian ada yang saya pakai atau terapkan dan tidak lupa saya tanam sewaktu-waktu ketika ada masalah atau diminta memutuskan hal yang penting semuanya siap. Mungkin awalnya karena aktifitas yang saya lakukan itu menyenangkan, sehingga turut mempengaruhi perasaan saya menjadi gembira, bergairah. Pada saat kondisi seperti inilah alam pikiran saya memanfaatkannya untuk menimbang dan memberikan solusi dari segala permasalahan yang saya alami atau orang lain alami yang direkam oleh pikiran saya juga. Hal ini mungkin terjadi di alam bawah sadar bahkan tingkat kesadaran yang tidak bisa saya deskripsikan dan tidak semua orang paham untuk itu. Namun hasilnya saya dapatkan, berpengaruh positif pula bagi kehidupan saya sendiri dan orang terdekat. Sebenarnya untuk hal semacam ini tidak terlalu membutuhkan fokus dan konsentrasi yang tinggi, hanya cukup melakukan aktifitas yang menyenangkan, sehabis itu tinggal istirahat duduk-duduk di pinggiran sawah sambil melihat hamparan pemandangan padi yang mulai menguning pada waktu itu, kemudian sisanya biarkan pikiran yang bekerja.
Intinya untuk proses pemecahan masalah seperti ini merupakan hal yang menurut saya mendasar dan logis, karena melibatkan pikiran, perasaan dan tingkah laku. Dalam hal ini aktifitas yang dilakukan haruslah menyenangkan, kemudian perasaan pun terpengaruh sehingga menjadi senang dan gembira. Namun di dalam prosesnya, topik permasalahan yang muncul saja yang memang masih abstrak dan perlu saya rumuskan juga caranya. Tetapi untuk model pemecahan masalah seperti ini juga saya pahami pada tempat yang berbeda dan caranya akan saya sampaikan pada artikel saya di lain kesempatan. Kemudian hal yang perlu dipahami pula, keterlibatan, kepekaan terhadap suatu masalah dan kemauan untuk belajar juga merupakan faktor yang sangat mempengaruhi guna memberikan materi kepada alam pikiran kita supaya bisa bekerja dan memberikan semacam asupan nutrisi untuk pikiran. Ya walaupun saya orangnya agak sedikit pemalu, kebiasaan saya yang sering dikejar-kejar oleh masalah yang saya buat sendiri menyebabkan saya tak pernah kekurangan akan masalah
Salah satu permasalahan yang saya dapatkan solusinya adalah tentang bagaimana caranya mengelola rasa malu. Rasa malu sendiri yang saya ketahui di awal itu ada yang bersifat negatif dan kebalikannya positif. Dikatakan negatif karena hal ini bisa membuat apa yang saya lakukan menjadi terganggu dan tentunya ujungnya membuat saya menjadi malas dan melempas dari tujuan. Kemudian rasa malu yang kebalikannya yang bersifat positif diantaranya apabila melakukan kesalahan terhadap siapapun itu harus menggunakan rasa malu dalam diri untuk meminta maaf atas kesalahan yang sudah diperbuat. Nah dari sinilah saya rasa ada yang kurang, namun entahlah pada waktu itu saya tidak peduli. Karena saking seringnya saya memikirkannya, nah pada momen saya pergi ke sawah untuk sekedar beraktifitas disana tahu-tahu muncul ide-ide tentang bagaimana caranya supaya tidak malu. Sontak jawaban yang muncul dari pikiran saya itu adalah saya harus berani, habis itu jujur, kemudian diteruskan bertanggung jawab (hingga kata-kata terakhir muncul dari pikiran saya), kemudian bagaimana cara mengupayakannya, yang keluar dari pikiran saya itu”Kamu harus lebih giat lagi belajar” heeee.
Komentar
Posting Komentar