Tiada hal yang berguna dari bolos sekolah, benarkah ?

        Bolos pada waktu jam pelajaran atau pada saat sekolah itu dilarang, dan tentunya akan di ganjar oleh hukuman serta norma yang berlaku di sekolah, di  keluarga dan masyarakat. Ini adalah hal wajib yang harus dipahami di awal oleh peserta didik, guru, serta pihak terkait  yang berkepentingan di dalamnya, dengan sedikit catatan, khusus peserta didik harus di ajarkan dan di arahkan secara bertahap karena tingkat pemahaman yang berbeda-beda. Hal ini bertujuan mencegah dan meminimalisir pengetahuan, perilaku, serta sikap siswa yang cenderung ke arah penyimpangan sosial termasuk bolos pada jam pelajaran atau sekolah.

 
 
Gambar Ilustrasi

Ada berbagai macam alasan dan cara siswa atau peserta didik membolos pada saat jam pelajaran. Mulai dari ketidaksukaan siswa akan Mapel dan atau guru yang mengajar, alasan ikut organisasi lah, hubungan pertemanan yang tidak begitu akrab dengan teman sekelas dan di luar kelas, kemudian ada juga faktor ekstern yang berhubungan dengan keluarga, lingkungan yang tidak ramah anak dan sebagainya. Beberapa hal di atas yang saya sampaikan adalah buah pengalaman saya sebagai siswa dan pengalaman saya yang sekarang berganti peran sebagai Guru Mapel. Tentunya alasan seperti ini tidak bisa dibenarkan. Disinilah peran Guru, beserta keluarga harus pro aktif melihat fenomena siswa yang kecendrungannya ke arah negatif atau menyimpang dan merugikan. Memonitor kebiasaan di rumah, kemudian melihat hasil evaluasi semisal nilai rapor serta kegiatan siswa di luar sekolah adalah salah satu cara supaya siswa itu terhindar dari perilaku menyimpang. Apalagi ditambah dengan fenomena media sosial yang memberikan pengaruh yang begitu besar, itu akan mengarahkan siswa ke jurang yang terdalam dan gelap, siapa pun akan sulit mengembalikannya, menyelamatkannya seperti semula. Namun di satu-sisi media sosial adalah sebagai wadah untuk siswa  berkreasi dan berinovasi sehingga pikiran, energi teralihkan ke hal-hal yang positif serta berguna bagi dirinya dan lingkungan.

Sebenarnya ini saja teori yang saya, penulis pahami. Saya pun waktu masa-masa sekolah di salah satu SMA Negeri di daerah Tabanan dulu juga tidak luput dari yang namanya perilaku menyimpang, diantaranya bolos sekolah. Namun pada saat itu hal positif yang saya dapatkan adalah saya mempunyai teman, teman untuk berbagi cerita, pengetahuan, game, hobi serta teman yang lama-kelamaan apabila terus dijaga keharmonisannya akan menguatkan keyakinan saya bahwa inilah keluarga. Tentunya tidak saja hal positif yang saya dapatkan, yang negatif juga banyak. Mulai dari kebiasaan merokok, mabuk-mabukan, judi dan sebagainya, saya juga mengenalnya baru di masa-masa ini. Hukuman serta norma yang berlaku di sekolah, di rumah dan masyarakat pun tetap jalan. Mungkin karena saya fokus dan konsistensi pada saat bolos dan belajar tentunya sedikit-demi sedikit di jalur formal atau sekolah bisa saya atasi dampak negatifnya secara perlahan. Dan saya rasa tidak semua orang bisa seperti itu, tahan akan ejekan,cacian dan hukuman. Mungkin terbilang anehnya lagi, saya tidak malu menceritakan hal negatif yang saya lakukan dahulu kepada siswa binaan saya sendiri. Cuman pada waktu menyampaikannya saya juga lihat situasi dan kondisi, jadi tidak semua. Cara ini biasanya ampuh bagi siswa yang karakternya mirip seperti saya dahulu waktu masa-masa sekolah. Cuman di akhirnya saya belokan kembali ujungnya ke hal-hal yang positif, seperti menerima hukuman atas perbuatan yang sudah dilakukan, kemudian berjanji untuk tidak mengulangi, dan mengambil hikmah dari perbuatan yang sudah dilakukan.

Kemudian berkaitan dengan cara itu beragam, sesuai motif dan tujuannya. Ada yang bolos nya hanya berada dalam lingkungan sekolah dan ada yang di luar sekolah. Ada yang pura-pura izin ke kamar kecil selama berjam-jam selesai pelajaran baru nongol, ada yang izin ke UKS dengan alasan sakit untuk tidur-tiduran, ada yang dispensasi karena ada kegiatan dari lembaga/sekolah tapi pas di ruangan main game menggunakan perangkat dari sekolah, biasanya jumlah siswa yang model seperti ini jumlahnya sedikit. Untuk motif bolos seperti ini gampang di tebak karena wilayah dan motifnya masih sederhana.

Kemudian yang bolos di luar sekolah ini tentunya lebih terencana, mulai dari menyiapkan surat izin atau sakit dari rumah dengan memalsukan tandatangan atau tanpa sepengetahuan Ortu, pura-pura berangkat dari rumah ke sekolah tetapi nyatanya tinggal di rumah atau kosan teman atau tempat tongkrongan, kemudian yang saya kira itu aneh karena bolos nya tinggal di rumah sendiri, yang ada Ortu nya lagi, tetapi Ortu nya tidak tahu bahwa anaknya tidak ikut pelajaran atau sekolah dengan alasan yang beragam pula. Nah model yang seperti ini sebenarnya yang saya sesalkan sebagai Guru, karena kurang perhatian dari Ortu atau mungkin dari pihak sekolahnya yang menyebabkan Si anak menjadi manja dan mendapatkan kenyamanan serta kesenangan dari tidak ikut pelajaran yang diselenggarakan di sekolah.

Kemudian ada yang lebih bervariasi lagi untuk cara membolos dari pelajaran atau sekolah. Datang secara normal, pagi berangkat sekolah, ikut pelajaran seperti biasa cuman di jam terakhir itu mengurus surat izin atau sakit di guru piket supaya bisa duluan sampai di tempat kos atau tongkrongan. Mungkin hal seperti ini tergolong sedikit, tapi faktanya saya temukan model siswa yang seperti itu di sekolah yang saya bina. Kemudian ada yang awalnya sama ikut pelajaran sebentar, kemudian setelahnya loncat pagar supaya tidak dapat mengikuti pelajaran. Motif seperti adalah yang paling populer, karena mungkin dianggap keren dan gentleman di kalangan siswa, yaa padahal faktanya gak seperti itu juga. Kemudian ada yang variasi bolosnya secara halus kelihatan tidak membolos, semisal minta izin keluar sebentar lewat satpam untuk foto copy atau izin beli perlengkapan sekolah yang tidak di jual di sekolah, namun fakta nya siswa yang bersangkutan itu ngopi, nongkrong di luar sekolah dan tentunya mengorbankan jam pelajaran. Selain apa yang saya sampaikan di atas, sebenarnya masih ada jenis-jenis yang lain dan lebih ekstrim, lebih pelik kalau kita mau jujur dan ingin memahami permasalahan anak-anak kita diusia beranjak dewasa, tetapi untuk cerita pada artikel kali ini penulis rasa cukup.

Nah yang terakhir ini  jadi favorit saya waktu SMA dahulu, di satu sisi saya di akuisisi sudah mengikuti pelajaran karena sudah terdata dalam absensi, sedangkan fakta nya saya bisa menikmati aktifitas di luar sekolah yang lebih menyenangkan, santai dan tidak terikat. Nah, lagi-lagi ini adalah murni hal-hal yang saya dapatkan dari pengalaman saya sewaktu jadi siswa dahulu. Tentunya semuannya ini negatif, karena merugikan saya dan keluarga secara khusus dan masyarakat secara umum. Namun “sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga”, ini adalah ungkapan yang saya pahami setelah Guru Biologi saya memergoki saya saat bolos sekolah. Waktu itu saya bolos dengan dengan teman sekelas saya yang bernama Ari. Dia juga sama seperti saya perasaannya pada saat diketahui mencuri pada artikel pertama, menjadi cemas, takut, malu melihat teman, Ortu, para Guru terkhusus Guru Biologi dan sekolah. Membayangkan saya dipanggil oleh Guru yang bersangkutan beserta Guru BK(Bina Konseling) bersama Ortu juga, kemudian di ajak bicara di ruangan khusus yang letaknya di ruangan Guru BK, itu yang saya pikirkan tidak sepenuhnya tepat. Melainkan saya merasa diperlakukan istimewa, mungkin karena saya anak dari seorang Guru yang mengajar di sekolah yang sama atau memang keistimewaan yang diberikan ini adalah salah satu metode Guru BK dalam menyelesaikan permasalahan dengan siswa yang bermasalah. Caranya yang mendekati saya secara personal atau secara “empat mata” pada jam istirahat ini menurut saya adalah cara yang efektif mengatasi permasalahan khususnya kenakalan remaja yang saya lakukan. Hal ini serasa mengurangi beban perasaan saya yang lagi kalut di awal. Namun yang namanya alasan serta motivasi saya bolos sekolah harus tetap di ceritakan. Ibarat sebagai teman, saya menceritakan semua alasan dan motivasi saya bolos sekolah kepada Guru BK. Beliau mendengarkan dengan seksama dan sebagai timbal baliknya beliau mengatakan “Sebelum beranjak dewasa, di masa-masa menemukan jati diri akan ada banyak hal yang akan kamu lalui dan pelajari, sebelum bertindak pikirkanlah terlebih dahulu apakah akan merugikan dirimu sendiri atau ortu atau sekolah. Carilah kegiatan positif, yang sudah berlalu biarlah berlalu, namun suatu saat hal ini pasti akan berguna tetapi hal ini jangan sampai mengaburkan cita-citamu”. Kedengaran dari apa yang disampaikan guru BK saya kayaknya bukan merupakan hukuman, melainkan sebuah motivasi supaya kedepannya saya tidak mengulangi kelakuan saya yang menyimpang dan tetap mengambil hikmah dari perbuatan negatif  yang saya lakukan. Kemudian respon saya mendengar hal ini menjadi lega, ternyata ada model permasalahan yang bisa diselesaikan dengan cara yang santai seperti ini.

Karena bel masuk kelas sudah berbunyi saya pun langsung disuruh masuk kelas. Setelah itu saya pun langsung menemui Ari teman sekelas saya yang saya ajak bolos. Kemudian saya menyampaikan kepadanya tentang hal yang disampaikan Guru BK kepada saya terkait perbuatan kami yang bolos pada saat jam pelajaran. Ari pun menyampaikan hal yang sama yang disampaikan Guru BK kepada saya. Kemudian percakapan kami pun terpotong karena Guru Mapel sudah masuk kelas.

Tanpa kami sadari Ujian Nasional (UN) lagi beberapa bulan, saya pun berusaha belajar semampunya dengan sistem kebut sebulan. Akhirnya terbuktilah, akibat bolos dan sering ketinggalan dalam pelajaran nilai pelajaran saya pun menurun. Tapi beruntung saya punya Guru dan Ortu yang pengertian, yaa walaupun nilai saya kurang, saya tetap diberikan motivasi untuk melanjutkan ke Perguruan Tinggi sesuai cita-cita yang saya mimpikan. Sebenarnya pada waktu itu saya tidak tahu apa yang saya cita-citakan atau jadi apa saya kalau sudah besar nanti. Kemudian tanpa sadar saya teringat kembali tentang apa yang disampaikan Guru BK, “suatu saat hal ini pasti akan berguna” cuplikan dari perkataan Guru BK yang santai saat menasehati saya pada saat ketahuan bolos sekolah. Maksud dari perkataan Guru BK yang saya artikan bolos itu akan jadi bermanfaat apabila saya bisa menyadarkan siswa yang sama seperti saya sering bolos sekolah kembali pada jalur menuju cita-cita yang diinginkan. Kemudian pada akhirnya pilihan inilah yang mengarahkan saya untuk mencari Perguruan Tinggi yang ada Jurusan Pendidikan nya atau Jurusan Keguruan. Singkat cerita setelah saya tamat dari Perguruan Tinggi tersebut, saya sempat istirahat setahun, sambil mencari informasi lowongan pekerjaan. Dise-sela mengisi waktu kosong saya kepikiran kembali sosok Guru BK saya. Bagaimana caranya supaya santai, tetapi tetap melakukan kegiatan positif yang nanti tentunya bisa mendukung cita-cita saya menjadi pribadi yang berguna bagi diri sendiri dan orang lain. Akhirnya setelah saya berpikir sejenak muncul ide untuk berkebun. Pada waktu kurang lebih setahun saya sudah bisa paling tidak melihat lahan gersang yang penuh akar dan semak belukar di tegalan yang keluarga saya miliki menjadi lebih bersih dan tertata. Selain itu di sela-sela menata lahan saya juga menyempatkan untuk menanam beberapa jenis pohon pisang, dan jenis ketela pohon. Saya sangat senang sekali dengan aktifitas saya pada waktu itu, santai tapi tetap menghasilkan, yaa walaupun sedikit. Tapi aktifitas ini hampir mengaburkan cita-cita saya yang besar menjadi pribadi yang berguna bagi diri sendiri dan orang lain. Kemudian sambil jalan lagi-lagi karena beruntung sampailah informasi bahwa sekolah yang saya dahulunya bersekolah disana memerlukan seorang tenaga pendidik atau Guru yang jurusan nya sesuai dengan jurusan yang saya tempuh pada saat di perguruan tinggi yakni jurusan Pendidikan Geografi. Di awal saya merasa tidak enak karena dahulu pada waktu jadi murid sering bolos dan nilai saya pun kurang. Namun respon Ortu dan mantan Guru pun positif mendengar saya sudah tamat dan akan mengajukan lamaran ke sekolah yang membesarkan saya. Tanpa berpikir panjang lagi saya langsung mengajukan lamaran.

Pada waktu pertama saya ke sekolah saya melihat Guru BK yang sering saya ceritakan, pada waktu itu beliau sedang memberikan pengarahan dan hukuman kepada siswa yang terlambat datang ke sekolah. Ternyata tidak disangka, saking jengkel nya beliau dengan siswa yang terlambat pada waktu itu, beliau marah dan sangat tegas. Beliau menghukum siswa itu push up dan lari keliling lapangan sebanyak dua kali. Pada waktu itu ada salah siswa yang menyampaikan kepada beliau, tidak boleh menghukum siswa yang berupa hukuman fisik. Sontak pada waktu itu siswa yang menyampaikan hal tersebut hukumannya ditambah. Kemudian setelah semua siswa yang terlambat diberikan hukuman, setelah itu siswa yang bersangkutan diberikan pengarahan supaya memahami dan menerima konsekuensi dari perbuatan yang telah dilakukan. Mengenai hukuman fisik itu ada apabila siswa yang bersangkutan sudah beberapa kali diingatkan dan diberikan pengarahan terus mengulang apa yang sudah dilanggar, bahkan ada hukuman yang lebih berat dari itu “Ujar Guru BK” sambil memberikan pengarahan kepada siswa. Setelah itu siswa di data dan dibubarkan dan menyuruh siswa kembali ke kelas masing-masing. Saya sempat berpikir apakah ini karakter asli dari Guru BK yang saya anggap santai. Kemudian sambil berjalan menuju ruang Guru kami sedikit berbincang terkait apa yang saya lihat mengenai cara penanganan siswa yang bermasalah. Kemudian beliau dengan santai menjelaskan kepada saya, untuk jadi Guru, khususnya yang menangani siswa yang bermasalah karakter tegas dan disiplin itu harus di taruh di depan sebagai benteng dan karakter yang lain yang saya anggap santai atau asli di belakang sebagai pelengkap. Ini pun juga harus melihat situasi dan kondisi, tidak semua persoalan yang menyangkut siswa harus disamakan perlakuannya. Kadang kita bisa sebagai teman, kadang kita bisa sebagai Ortu nya. Ohh jadi seperti itu alasannya, akhirnya saya baru mengerti, sambil saya berpikir.

Tapi kalau dipikir- pikir lagi saya beruntung juga karena di berikan pelajaran secara langsung oleh senior saya atau para Guru. Tentang mempelajari karakter itu penting apalagi di Zaman yang seperti ini, serba digital serba tidak langsung, belajar lewat hp, komputer atau yang akrab kita istilahkan belajar secara Daring, atau Pembelajaran Jarak Jauh atau pembelajaran Dari rumah. Tentunya apa yang sudah diajarkan sebelumnya oleh Guru dan Ortu saya tidak cukup. Karena zaman terus berubah, tantangan kedepannya kita harus terus mengembangkan, terus berliterasi mencari referensi lewat media dan buku pelajaran serta tidak kalah pentingnya mendengarkan petuah dari Guru-Guru senior dan Ortu. Tujuan yang saya rasa begitu sulit saya wujudkan di awal, namun prinsip santai dan bertahap dengan mempelajari literasi lebih awal, lebih dini tentang lingkungan, keluarga saya rasa permasalahan yang muncul bisa diselesaikan, tanpa menimbulkan masalah yang baru dan tentunya disatu sisi bisa menguatkan kita semua akan cita-cita bersama yakni menjadi insan yang berguna bagi diri sendiri, lingkungan sekolah dan masyarakat.

Komentar

Postingan Populer