Jujur

               Ini artikel saya yang ketiga, menceritakan tentang kisah hidup saya yang lumayan banyak dihadapkan terhadap permasalahan. Mulai permasalahan dari saya kecil sampai dewasa. Dari merokok, bolos sekolah, mencuri, dan masih banyak lagi, suatu saat kalau teringat atau diingatkan saya biasanya tersenyum atau ketawa sendiri. Terkadang beberapa membekas di ingatan saya, kemudian di arahkan oleh pikiran saya supaya jangan mengulangi dan bisa mengambil hikmah dari segala perbuatan yang menyebabkan permasalahan di dalam  hidup saya. Terkadang pula ada yang saya ulang berkali-kali, mungkin supaya saya benar-benar paham kali. Mungkin semua orang pernah mengalami permasalahan, tapi tiada yang se beruntung saya. Mengapa demikian, ya.

          Karena saya mempunyai keluarga, kenapa keluarga ? Keluarga adalah orang terdekat dari kita, bukan hanya saya saja. Terkadang suatu ketika apabila kita punya masalah biasanya kita akan menyampaikan permasalahan tersebut kepada kerabat terdekat atau adik atau kakak. Hal seperti ini mungkin tidak kita pahami kalau kita masih anak-anak. Hal yang membekas di pikiran saya, pada waktu kecil saya sempat mencuri uang dari ortu, kemudian saya gunakan untuk membeli hand phone atau HP. Mungkin kalau saya bisa komunikasi dengan keluarga, bahwa saya ingin punya HP, saya tidak perlu sampai mencuri. Cuman permasalahan dan solusi nya tidak segampang itu. Yang namanya komunikasi sudah saya lakukan kepada ortu, “Pak, tiang  ingin punya HP, belikan ya Pak”, “sekarang Bapak tidak punya uang, nanti kalau sudah punya bapak belikan”. Itu adalah cuplikan komunikasi saya dengan ortu pada saat minta di belikan HP. Pada saat disampaikan alasannya kenapa tidak dibelikan HP saya yang waktu  itu masih berumur 12 tahun sudah mengerti sedikit-sedikit tentang apa yang disampaikan bapak saya. Tetapi lingkungan tempat saya bermain, belajar itu mengarahkan sudut pandang saya. Akhirnya tanpa berpikir panjang, saya langsung mengambil uang yang ada di bawah tempat tidur ortu, kemudian bergegas saya pergi ke konter HP untuk membeli HP yang saya ingin. HP yang saya beli itu adalah HP seri Nokia 6600 atau yang akrab lebih dikenal HP belah ketupat versi saya, padahal seri yang sebenarnya Nokia 7500 yang di istilahkan seperti itu hee.

     📷 by gusdeswr@gmail.com
Gambar Ilustrasi


         
Singkat kata, setelah saya membeli HP tersebut dan menggunakan kontennya selama beberapa hari, barulah saya merasa menyesal karena membeli HP dari uang hasil mencuri. Perasaan takut pun mulai menghantui. Setiap kali melihat HP tersebut, seakan-akan saya melihat wajah bapak saya yang lagi marah. Tidak ada hal yang bisa saya lakukan selain menunggu kapan masalah ini akan dibongkar. Saya pun pasrah, apabila nanti dimarahi, dipukul pakai sapu ijuk, dan dihukum dengan diikat di pohon mangga semalaman. Selang beberapa hari tibalah momen yang krusial dalam hidup saya, yang nantinya kelak akan menjadi pengalaman yang benar-benar tak terlupakan bagi kehidupan saya Pada saat itu ortu saya mulai bertanya tentang uangnya yang hilang sejumlah 1, 6 juta kepada semua penghuni rumah. Tidak ada satu pun yang berani mengangkat tangan dan berbicara. Perasaan saya pun terasa mencekam pada saat saya ditanya”Gus ade nyemak pis Kumpi atau Buyut”, saya pada waktu itu spontan menjawab TIDAK ADA, padahal saya yang mengambil dan berencana mengaku supaya tidak ada lagi masalah yang saya rasakan. Karena situasi yang benar-benar di luar dugaan saya akhirnya menunggu momen selanjutnya untuk mengaku. Beberapa hari kemudian, paman saya mendatangi para normal, ini tujuannya supaya diberikan petunjuk atas siapa yang mengambil uang dari Kumpi. Hasilnya tidak saya ketahui, tetapi setelah ditanya untuk yang kedua kalinya akhirnya saya mengaku, saya lah yang mengambil uang Kumpi sejumlah 1, 6 juta untuk saya belikan HP. Yang saya ingat pada waktu itu semua orang kaget, karena saya adalah cicit kepercaayaan atau kesayangan dari Kumpi, tapi kenapa tega- teganya mencuri uang Beliau.

          Singkat kata setelah saya mengaku, HP nya pun diminta dan akan dijual untuk pengganti uang dari Kumpi. Pada waktu itu muncul paman saya yang kedua, dia yang membeli HP tersebut seharga berapa uang Kumpi yang saya curi, mengingat kalau jual di konter pasti harganya lebih murah. Kemudian uang dari hasil penjualan HP tersebut, diserahkan kembali ke Kumpi. Tapi permasalahan baru  mulai muncul. Kumpi saya tidak mengakui, bahwa saya yang mengambil uangnya, padahal saya sudah mengaku dan menerima konsekuensi dicap sebagai pencuri. Kumpi saya mengira paman saya lah yang mengambil uangnya, bukan saya. Sontak sekarang giliran saya yang terkejut, saya kira masalahnya sudah selesai, tetapi kok ada masalah lagi yang muncul dari masalah di awal. Sambil jalan, saya terus menyampaikan minta maaf  kepada keluarga besar karena mencuri uang Kumpi dan di satu sisi saya juga tetap meyakinkan Kumpi bahwa saya lah yang mengambil uang Beliau. Untungnya karena saya mengaku, walaupun terlambat saya tidak dihukum dan keluarga tidak mencap saya sebagai pencuri.

          Namun saya rasa permasalahan yang saya hadapi itu lumayan aneh dan pelik, orang yang mencuri bukanlah pencuri, serta orang yang mencuri seharusnya dihukum supaya tidak mengulangi perbuatannya, tetapi saya tidak. Kemudian selang beberapa tahun Kumpi saya pun meninggal, alhasil upaya saya meyakinkan yang mengambil uang Kumpi saya adalah cicit kesayangannya sendiri berakhir dalam  pikiran saya yang sederhana. Setelah Beliau meninggal akhirnya pandangan saya pun berubah seiring waktu dan pengetahuan yang saya dapatkan dari jenjang kuliah. Saya bertekad akan menjadi pribadi yang jujur, tidak hanya untuk keluarga tetapi semua, tidak hanya jujur untuk waktu yang singkat tetapi selamanya. Tekad saya pun sengaja saya bagikan ke blog yang saya buat, karena ini salah satu indikasi bahwa saya itu jujur, dan orang jujur itu selalu terbuka akan permasalahan yang dihadapi serta selalu memberikan motivasi kepada semua kerabat dan sahabatnya. Dalam hal ini saya pun belajar konteks mengenai nilai kejujuran. Kejujuran itu diantaranya di bentuk oleh beberapa unsur-unsur nilai, salah satunya adalah unsur positif yang selalu memotivasi dan keterbukaan dari segi penyampaian. Mudah-mudahan apa yang yang saya sampaikan bisa memenuhi keduanya serta karena keterbatasan atas nama kejujuran saya minta maaf dan sampai jumpa pada artikel saya selanjutnya. Sekian

Komentar

Postingan Populer