Autobiografi Saya
Kemudian mengenai identitas penulis, perkenalkan
Nama saya penulis : I Gede Putu Wirayasa, akrab dipanggil atau dikenal “Gusde” kalau di kampung. Berkaitan dengan nama, setiap orang memiliki arti yang berhubungan juga nantinya dengan karakter yang diharapkan dan cita-cita depannya kelak. Dari cerita ortu dan beberapa hasil literasi berkaitan dengan arti atau makna dari sebuah nama dalam kebudayaan masyarakat di Bali, termasuk nama saya sendiri apabila dijabarkan. “I” berarti anak laki-laki, “Gede” berarti besar dan pemahamannya dapat diartikan anak yang pertama, “Putu” berarti anak yang pertama dan Wirayasa berasal dari kata “Wira” berarti pemberani, pahlawan (dalam, KBBI) dan “Yasa” artinya amal, kemuliaan, dan wujud karakter dari kesungguhan dan keteguhan dalam diri. Jadi kalau dapat disimpulkan nama saya itu maknanya luar biasa sekali pengharapannya, saya adalah anak laki-laki yang pertama dari pasangan “I Putu Winten dan Ni Made Winasih”, yang pada waktu saya dilahirkan tidak luput dari yang namanya kekurangan, dan tentunya supaya saya tidak menjadikan kekurangan itu sebagai hambatan untuk menjalani waktu, tahapan kehidupan dengan normal maupun bisa membanggakan ortu makanya saya di harapakan dan diwajibkan harus sungguh-sungguh dan teguh serta berani di dalam menjalani kehidupan.
Sedangkan mengenai nama kecil“Gusde” setahu saya sejarahnya yang paling sering memanggil saya seperti itu adalah Nenek, arti yang bisa saya jelaskan, Gusde berasal dari dua kata, yakni “Bagus” yang berarti ganteng, tampan dan “Gede” yang berarti besar. Maksud dan tujuan saya diberikan julukan atau nama kecil Bagus Gede atau Gusde sebenarnya saya tidak begitu paham maknanya, padahal saya sendiri tidak merasa besar maupun ganteng, apalagi keduanya. Ehhhmm. Mungkin maksudnya nama ini diberikan supaya saya dikenal sebagai pribadi yang memiliki cukup kemampuan dalam berliterasi dan memiliki karakter yang luas dan beragam, bisa lucu seperti fp saya di sosmed, galak karena faktor keturunan, bisa juga sedikit cool kayak artis drama Korea, pendiam padahal saya lagi ngapalin materi pembelajaran di sekolah, memiliki semangat yang begitu besar, mungkin terkadang bisa juga aneh. Hee. Mengenai umur, usia saya sudah cukup matang, 6 Maret 2021 beberapa bulan nanti saya berumur 31 tahun. Bagi saya, umur adalah faktor penting di dalam kehidupan. Semakin kita berumur semakin kita bertambah dewasa, kedewasaan yang muncul dari pengalaman, proses pembelajaran yang melibatkan beragam literasi dan pembelajaran mengenai karakter diri sendiri dan orang lain. Namun setelah melihat teman se profesi, yang kalau dilihat dari umur lebih tua, hendak bermain game dengan kecerdikan dan semangat yang hampir sama dengan anak yang berusia 18 tahun tentunya ini pengalaman yang berharga dan beruntung yang saya miliki. Setiap kami bertemu atau berdiskusi saya sangat antusias menunggu argumen yang beliau sampaikan, tentang berbagai hal. Entah itu masalah politik, sosial, budaya, sains, kesehatan dan lain-lain. Tentunya di sisi yang lain beliau juga menunggu diajarkan bagaimana cara menembak sambil berjalan supaya tepat sasaran dan mendapat bintang.
Kemudian mengenai alamat, saya tinggal disalah satu desa di Kabupaten Tabanan, tepatnya di Desa Bongan Kauh Kelod. Mengenai alamat tempat tinggal saya itu sudah ada turun-temurun, mulai dari leluhur, sampai generasi saya sekarang. Karena saking lamanya, saya juga sempat diceritakan sedikit mengenai asal-usul Desa Bongan itu berasal dari kata “Buwungan” yang diartikan tidak jadi (KBBI) dalam hal ini maksudnya dahulu pemerintah pada zamannya hendak membangun sebuah Desa di daerah Desa Bongan sekarang, karena lingkungannya dekat dengan dengan sungai dan masih banyak hutan supaya terjaga kelestariannya akhirnya dipilihlah Desa Wanasara, “Wana” berarti hutan dan “Sara” berarti saru atau sedikit tidak terlihat(KBBI) yang berada di sebelah selatan Desa Bongan sekarang untuk dijadikan sebuah Desa atau hunian dari masyarakat. Kemudian karena perkembangan jumlah penduduk di daerah tersebut, kemudian lahan yang semakin sempit di daerah Wanasara, terjadilah konversi lahan Desa Bongan sekarang yang duhulunya merupakan hutan menjadi sebuah daerah hunian bagi masyarakat setempat. Kemudian mengenai sejarah leluhur atau nenek moyang saya itu berasal dari daerah Pinatih/Badung, kemudian karena beberapa alasan yang penulis lupa alasannya kemudian pindah ke Tabanan, khususnya ke Desa Bongan. Kurang lebih seperti itu yang saya pahami dalam cerita yang disampaikan ortu saya (PWinten; dalam tutur, 2015).
Kemudian mengenai pendidikan dan pekerjaan, dari awal sampai saat ini, sebenarnya itu murni dari hasil perencanaan dan pengarahan ortu dan didukung oleh kondisi serta situasi lingkungan tempat tinggal saya. Mulai dari jenjang TK(Taman Kanak-kanak), kemudian tingkat setelahnya SD (Sekolah Dasar) saya bersekolah di Desa. Kemudian baru untuk jenjang SMP(Sekolah Menengah Pertama) dan SMA(Sekolah Menengah Atas) serta (S1) Perguruan Tinggi saya bersekolah di kota. Dari apa yang saya sampaikan ini tentunya ada perbedaan yang saya dapatkan mengenai aspek lingkungan, mulai dari gaya hidup, bahasa, tingkat persaingan, mengenal karakter masyrakatnya dan sebagainya. Jadi inilah salah satu hal yang menyebabkan saya sedikit tidaknya memahami karakter masyarakatnya. Tetapi ujungnya kemana pun kamu menuntut ilmu jangan pernah melupakan tempat dimana kamu dibesarkan, jangan lupa mengkontribusikan apa yang kamu peroleh dari buah pendidikan yang kamu tuntut. Prinsip inilah yang saya terapkan ketika saya tamat sekolah, menjadi Guru di salah satu sekolah yang membesarkan nama saya. Tidak saja mengajarkan materi pembelajaran, tetapi juga memberikan kesempatan generasi penerus untuk terjun secara langsung, mengenal lingkungan tempat tinggal mereka. Sebenarnya saya memiliki pemikiran lebih untuk itu, karena yang namanya belajar itu harus bertahap, harapan saya kedepannya mudah-mudahan mantan anak didik saya kelak bisa mengembangkan materi, atau kegiatan atau program yang tentunya bisa berkontribusi positif dan membangun untuk daerah tempat tinggal mereka sendiri.
Terakhir yang bisa saya jabarkan pada artikel kali ini adalah hobi atau kegemaran serta cita-cita yang sampai pada saat ini bentuk konkretnya belum saya dapatkan tapi sudah saya coba untuk memahami. Kenapa saya sampaikan seperti itu di awal, sebenarna nya mengenai hobi yang saya lakukan disela-sela waktu luang dan tentunya memiliki kebermanfaatan itu memiliki semacam prinsip, apa yang saya lihat di sela-sela waktu luang dan bermanfaat itu lah hobi saya. Kenapa, yaa karena saya senang beraktifitas, apalagi itu sifatnya positif dan bermanfaat. Cuman terkadang penerapannya itu ada yang saya lakukan secara rutin seperti sepeda, berkebun, bersih-bersih, membaca, menyanyi, olahraga, game dan sebagainya, dan ada yang saya lakukan tidak menentu seperti memasak, fotografi, termasuk pada saat saya menulis pada blog saya ini. Mungkin kedepannya hobi saya akan bertambah, seiring berjalannya waktu. Namun yang pasti hobi itu selain apa yang saya sampaikan di atas, tentunya harus mendukung cita-cita yang kamu miliki kelak. Kemudian kalau ngomongin cita-cita, konsepnya sama seperti hobi, sifatnya abstrak. Cita-cita saya dulu waktu kecil itu ingin jadi "Manusia biasa-biasa". Saya sering kalau ada yang bertanya pada waktu kecil dahulu, pasti saya jawab seperti itu”Manusia biasa-biasa”, terkadang kalau ditanya guru saja saya berbohong. Tidak ada yang tahu kenapa saya jawab seperti itu, bahkan saya pun juga tidak tahu kenapa ? Namun sesekali saya sempat lupa terhadap cita-cita saya sendiri, tetapi ortu terus mengingatkan bahwa cita-cita kamu waktu kecil adalah sebagai “manusia biasa-biasa” bahkan sampai sekarang kalau ada momen tertentu pasti diceritain kembali. Kemudian setelah saya pikir-pikir, ternyata maksud dari cita-cita saya dulu waktu kecil itu berkaitan dengan pemahaman serta kejadian yang saya alami waktu kecil dulu, di ejek, dicaci. Baru setelah saya dewasa, dan merasa harus ada perubahan besar yang harus saya lakukan, yaa semacam reformasi lah kalau koridornya luas seperti negara. Kemudian konsep cita-cita saya waktu kecil yang ingin jadi “Manusia biasa-biasa” saya rubah menjadi “Manusia luar biasa”. Dalam mengkonsepkannya pun, saya lebih nyaman kalau menjelaskan cita-cita sebagai sesuatu yang sifatnya abstrak. Cuman kalau ada orang yang ingin mendalami konsep cita-cita yang saya maksud dan ingin gapai, baru saya ceritakan secara bertahap. Sebenarnya kalau model penyampaian cita-citanya seperti saya, itu tujuan menarik simpati dari orang yang bertanya, kemudian kalau dia benar-benar bersimpati baru giliran saya nanti menyampaikan supaya yang bertanya benar-benar mengerti bahkan termotivasi dari apa yang saya jelaskan mengenai cita-cita.
Nah kurang lebih ini saja yang bisa saya ceritakan pada artikel kali ini, mohon maaf kalau ada salah-salah kata, semoga esok kita bisa melihat matahari terbit dari ufuk timur dan tenggelam di ufuk barat. Sampai jumpa pada kesempatan berikutnya.(Gus Solah; dalam acara di TVRI, 2004)
Komentar
Posting Komentar